Sebagian orang didahulukan dengan pengetahuan akan hidup dan kebijaksanaan, untuk menuai keberhasilan dan mendapatkan arti dari kerja keras. Sebagian lagi harus ditampar berulang kali untuk mengerti.

Sudah terlalu lama saya menunggu dan bermimpi, kadang terbersit apakah saya bisa menjadi. Setelah dipikir pikir (ya dan lagi, cuman mikir, gratis dan cenderung tak bermanfaat karena definisi mikir jadi menghayal), wah saya tidak mau tua jadi tukang minta-minta.

Tapi jujur kadang-kadang saya bingung, ini yang ndak manut sama keinginan baik ini siapa ya ? Otak kita, hati kita, atau badan lahir. Sepertinya sih semuanya. Tapi kalo ndak dicoba, saya tetep akan statis. Padahal ide nya saya dilahirkan kan jadi dinamis. Wong mbikin saya aja pake gerakan dinamis. Tapi kurang tahu juga, coba saya konfirmasi dulu via sms. Pulsanya tiris.

Sementara yang dinamakan mencoba, menguji itu kan bertautan dengan hasil. Saya ngeri membayangkan hasil, kerdil sebelum tahu. Bersepakat dengan otak itu simple, bersepakat dengan hati dan konsistensi lain cerita.

Sudah berapa kali ya meng-afirmasi diri ? Sepertinya selalu terhenti ketika keberhasilan kecil sudah ditunai, ketika kesombongan dapat diucapkan dan ditenteng dengan santai. Dan wajah kagum dilewati. Semoga yang ini tidak, capek orgasme dengan keluh kesah. Mungkin keluh kesah juga sudah begah dengan saya. Semoga saja keluh kesah tidak hamil dan punya anak rendah diri.

Ketika saya mengerti apa yang kurang dan agak mengerti apa yang salah, agak mengerti ya (sedikit saya koreksi agar tulisan diparagraf diatas tidak jadi kenyataan keberapa kali) saya terlambat. Tapi tidak ada kata terlambat ketika kita ingin (katanya sih, tapi saya ngikut deh). Jadi saya ingin. Jadi saya coba lagi.

Popularity: 100% [?]