Is marriage worth the sacrifice?

Wednesday, March 18, 2009, 13:57 in Garing & Gak Penting - 20 Comments

Apakah pernikahan sepadan dengan pengorbanan yang kita lakukan? Hobi, kebebasan, kerja keras, waktu dsb?

Pada saat saya melepas kartono, maka tiba-tiba pertanyaan diatas muncul, FYI kartono adalah nama sepeda motor saya, jangan tanya kenapa dinamain begitu, sepeda sebelumnya namanya Kartinah. Sepeda kawasaki ninja kesayangan yang sudah dimodif segala gaul demi mirip motornya Mas Valentino Rossi sang idola.

Ngebut bagi saya adalah sebuah manifesto dari kebebasan dan pengungkapan rasa sebal, atau kadang penyaluran ego menjadi jagoan seperti protagonis film yang tidak pernah kesampaian, kadang-kadang hanya pembalasan terhadap provokasi selebihnya cuman pengen cepet sampai kantor atau rumah.

Intinya, pada saat saya menjual kartono, saya sedikit merasa terancam, perasaan saya mengatakan kalo ngebut dilarang, nanti pasti billie ngga bisa, bowling gak boleh, spa dikukus apalagi karaokean di roppongi papa dengan mahasiswi mahasiswi gemulai itu. Alamak jang, macam apa hidup inyong nantinya. Hambar hambar jumpa dong. (Kalo yang gak tau hambar hambar jumpa itu opening lagunya Santa Hoki – Setangkai bunga padi).

Katanya loh,.. ini katanya siapa saya juga kurang tau – β€œSacrificing your happiness for the happiness of the one you love, is by far, the truest type of love.” Lha double alamakjang kalo begini, hey berdiri mak bulu romaku,.. mau jadi apa kalo seumur hidup berkorban terus kapan saya bahagianya. Oke itu adalah cinta sejati, tapi ya masak cinta sejati isinya nelangsa. Shitnetron dong.

Tapi ternyata saya aga sedikit salah mengambil kesimpulan. Salahnya saya adalah “pandangan / cara pemaknaan saya terhadap pengorbanan itu sendiri”. Saya lebih dulu melihat makna negatif dari pengorbanan, saya melihat pengorbanan adalah dari diri saya, saya melihat hal-hal yang saya senangi hilang.

Dalam obrolan singkat dalam taksi saya bertanya

+ Jeng,.. kalo saya ngebut2an kan ngga boleh
– Temtu saja kangmas – sambil mengangguk gemulai macam penari tarling
+ Kalo balapan di sentul boleh tak
– Temtu saja boleh kangmas – tetep gemulai, pak supir taksinya salah megang persneling
+ Oh baiklah – saya menerawang dan berpikir
– Temtu saja boleh kangmas – lho aku wis gak tanya apa2,..

Dari pembicaraan diatas saya sedikit mendapatkan pencerahan, seperti opening screen-nya Mr. Bean, tiba2 ada sinar putih mengarah pada saya yang sedang duduk dalam taksi. Rasanya sejuk dan sedikit berangin, penuh dengan kedamaian. Seperti terlahir kembali, penuh dengan gairah baru. Pak supir taksinya minta maaf atap taksinya lobang.

Memaksa untuk melepas sesuatu yang kita senangi secara penuh dan frontal kadang hanya membuat kita makin merasa muak. Kadang membuat pasangan merasa bersalah, kadang kita jadikan alasan untuk mengungkit dan menjadikannya hutang. Masalahnya dalam perasaan tidak mengenal kata hutang. Kalo rasa sayang dilandasi perasaan hutang atau gak enak ati, tidak akan ada kebahagiaan didalamnya.

Saya mulai sedikit mengerti, ini bukan masalah apa yang saya korbankan, tapi apa yang saya “kompromisasikan” untuk kebahagiaan yang lebih besar. Kebahagiaan kita berdua *Fazal dath sekali*. Kita adalah dua individu yang berbeda, memiliki hasrat, hobi, keinginan yang berbeda, bisa jadi arti kebahagiaan bagi kami pun berbeda. Tapi kami berdua saling suka dan memutuskan hidup bersama. Dus, berkompromi adalah jalan keluar yang sempurna.

Gandhi said – β€œThe sacrifice which causes sorrow to the doer of the sacrifice is no sacrifice. Real sacrifice lightens the mind of the doer and gives him a sense of peace and joy. The Buddha gave up the pleasures of life because they had become painful to him.”

Sekarang saya yakin, untuk semua hal yang telah saya kompromikan, kerja keras, hobi dan lain sebagainya, diajeng pasti sudah memikirkan kelebihan dan kerugiannya. Saya akan berusaha memupuk kepercayaan bahwasanya ketika diajeng meminta atau melarang sesuatu pasti ada alasan logis dibaliknya dan niatan baik kepada saya. Berfikir positif adalah jalan yang sempurna.

Never intentionally sacrifice yourself or your values. That way, if you realize that you are sacrificing something – your own happiness for the sake of a loveless marriage – then you know what to do. But if you realize that you are merely working hard for a marriage that you value more than anything else in the world, the thought of pitching yourself into that volcano won’t even enter your mind.

Selamat tinggal mahasiswi roponggi papa,.. Selamat datang penyanyi dangdut Uzbekiztan!

You can leave a response, or trackback from your own site.

20 Responses to “Is marriage worth the sacrifice?”

  1. snydez said on Thursday, March 19, 2009, 2:29

    umm kalo gak berkorban , gak nikah nikah nanti πŸ˜€

  2. Ifa said on Thursday, March 19, 2009, 10:52

    Hmm..agree, bukan berkorban tp berkompromi
    aahh.. aku jd menemukan pencerahan, terima kasih postingannya…

  3. pipu said on Friday, March 20, 2009, 7:09

    tapi kan… ah, sudahlah!

  4. achill said on Friday, March 20, 2009, 7:14

    baru tau kalo elo ngafans sama kang Rossi :p

  5. Uwi said on Friday, March 20, 2009, 7:25

    Teteuuup aja terakhirnya mencantumkan lokasi maut. Uzbekistan!

  6. nasgorkam said on Friday, March 20, 2009, 7:36

    suhu,.. ajarkan kami ilmu mu suhuuuuuu

  7. nasgorkam said on Friday, March 20, 2009, 7:37

    ah senangnya,….
    sama-sama jeng,.. πŸ™‚ semoga bermanfaat

  8. nasgorkam said on Friday, March 20, 2009, 7:40

    iya juga sih,.. kalo globalnya emang gitu
    gue cuman pengen sharing tentang habit kita yang ngeliat suatu pengorbanan dari sisi kita doang,..
    gak ngeliat secara keseluruhan,.. kita kan fitrahnya selalu ngeliat susahnya kita duluan bukan susahnya pasangan,.. dan biasanya susahnya kita yang jadi stigma tanpa ngeliat susahnya yang lain,..

  9. nasgorkam said on Friday, March 20, 2009, 7:41

    lho kemana aja chill,.. gue dah kritingin rambut segala rupa

  10. nasgorkam said on Friday, March 20, 2009, 7:41

    pastinyaaaaaaaaaaaaaaaaa,…. hidungnya muancung2 bune

  11. achill said on Friday, March 20, 2009, 7:45

    kritingin rambut? bukannya emang udah bawaan lahir ya?

  12. pipu said on Friday, March 20, 2009, 11:14

    Inilah tugas yang harus diemban oleh PengalaMan! Dia akan mengajarkanmu dan pasangan bagaimana harus bersikap dan saling berkompromi dengan kebutuhan dan kesenangan masing-masing demi kebahagiaan bersama.. it's a bird! it's a plane! it's PengalaMan!

  13. chakim said on Monday, March 23, 2009, 20:32

    Tentu saja sepadan pakde, hasrat dan keinginan berbeda akan sejalan ketika nanti (insyaAllah) ada si kecil :), nikmati saja

  14. nasgorkam said on Tuesday, March 24, 2009, 8:07

    muonyong

  15. nasgorkam said on Tuesday, March 24, 2009, 8:08

    sebenernya tujuan utama ku kawin yo ben anak ku gak dikeplaki anakmu kim πŸ˜€

  16. Nindya said on Tuesday, March 24, 2009, 19:22

    Baca sambil cekikikan malem-malem tapi salut deh mas Doddy πŸ˜€ Hebat hebat πŸ™‚ Setujuh dah pokoknya πŸ˜€

  17. chakim said on Wednesday, March 25, 2009, 8:08

    walah, bingung aku coy … mumet mumet … heehe

  18. tehsorehari said on Thursday, August 13, 2009, 23:15

    mmmmh… gue gag tuuuh.. laki gue juga engga πŸ˜€

  19. poetra said on Friday, August 21, 2009, 5:11

    Jadi, ternyata salah satu pengorbanan yang bisa dilakukan dalam pernikahan adalah, menyanyi lagu dangdut dengan lirik uzbek? Berarti, Fauzi Baadilah beruntung dong ya, dapat istri orang uzbek..

    *lost focus*

    Entahlah dod, aku tak paham soal begini-begini. Aku masih polos, tak mengerti soal cinta-mencinta. Itu ranah yang asing untukku…

    *nelen monitor*

  20. Discount Electronics said on Saturday, September 26, 2009, 3:50

    of course, yes!

Leave a Reply