bagong sekarat

Thursday, October 16, 2003, 1:02 in Garing & Gak Penting - 0 Comments

mak.. mak.. bagong sekarat ? dicokot ulo weling mak (digigit ular berbisa mak)
hwarakadaaahhh … kok bisa sekarat, dimana .. mana anaknya
dikebon kang jum ..! kata gendus sambil sesunggukan
ya udah cepetan cari degan, sama beli uyah (garem) .. ini duitnya
diangsurkanya duit 25 perak

dia berlari dengan sesobek jariknya. masih diingetnya tadi pagi si bagong masih manggul kayu bakar, masih terbayang tadi pagi dia melarang bagong terjun2an di tebing kali lesthi, kali yang terkenal angker dan suka makan anak kecil. tapi bagong bandel ga pernah nurut, malah dia nanem kangkung sama miara ikan lele disebelah kali, buat makan kita mak katanya biar ada gizi, dan tetep cari kayu kopi, biar mak ga capek cari kayu bakar. bagong yg berjalan kaki ke pasar turen membelikanya sebungkus bakso favorit 1500 yang paling enak sedesa. bagong yg suka nyolong duku dan kadang burungnya mbendol kena tengu, mahluk kecil merah yg bikin gatel itu. bagong yg ga malu mengakui sebagai maknya. kilas2 peristiwa itu tersusun rapi dan berkelebat, mengiringi deras peluh dan airmata yang turun saat ia berlari ke kebon kang jum.

ipul masih memangku bagong kala ia datang, busa meleler dipinggir bibir bagong.

oalaahhh nak piyeee too kok sampe begini, astagfirullah,.. sambil meraung didekatinya anak dekil yang sudah dianggapnya anak sendiri itu. anak yang dicuekin orang tuanya karena sibuk dengan dunianya masing-masing, ayahnya yang ganteng mulai main perempuan lain, ibunya … ibunya yang menyayanginya kini mulai suka marah2, dan asyik dengan dunianya. dia yang dulunya hidup dikota penuh dengan kesenangan, kini ikut dengan neneknya. satu2nya nenek. tapi sayang, tak ada lagi yang perduli padanya, kecuali mak jah inangnya. ya .. mak jah dengan tangan kasarnya memijatnya kala bagong ketauan nyolong duit, mukanya lebam, badanya dibalut bilur2 ungu. dipijatnya dengan minyak jelantah sisa gorengan tempe tadi siang. mak jah yang menyuruhnya ngaji ditempat bu lilik, mak jah yang mendoakanya saat bagong mau ebtanas, saat ia bersekolah bertelanjang kaki, dan bercelana dengan kain dobel dipantat, supaya ga lekas robek katanya. mak jah yg mencubitnya saat tak bisa membedakan antara “sa” dan “tsa” waktu baca qur’an. mak jah yang membuatkan palesan (gagang pancing), saat lomba mancing sekelurahan yg berhadiah sepeda bmx yang sangat diingikanya.

kini bagong yang disayangnya, terbaring dengan mata melotot.


alam bagong.
loh dimana ini, papah ?? ituw papah ? ma ? mama ? maaaaaaaaaaaaaaaaaaa? pakde, budhe, mak jah, loh sapa sih2 gendus ? ipul, aceng ? sapa? kamu siapa ? hey jawab, dasar cah edan pada diem semua. tapi kenapa mataku burem sih ? heeemmm *endus* tapi disini harummm … hehhehe enak ya disini, baunya harum, seger, coba mak jah dibawa kesini, mak jah kan senenganya bunga melati yang seger, ditaro dibawa bantal. bikin awet muda katanya hehhe ada2 aja mak jah. tapi kenapa orang2 diem semua ?

ceng, cepet bawa uyahnya sinih cepeeeeeeeettt !!!!
iya mak, diangsurkanya garem sekotak, garem kotakan yang hanya dijual dikampung2, garem kotor kalo orang kota bilang. diambilnya sejumput pucuk garem, dan dicampurnya pada bolongan yang udah dibikinya pada batok degan, dikocoknya keras, resep dari jaman baheula, air degan dan garam itu bisa menetralisir segala macem racun, ya allah, berilah kekuatan pada bagong. berilah kehidupan ya allah, anak ini masih kecil, masih belum tau apa2 …..

setengah jam kemudian, saat adzan maghrib tiba dan orang2 berkumpul dirumah mak ijah, jerit tangis dimana mana, pak kades pakdhe bagong datang paling akhir dan menayakan kabar ponakanya. saat pupus (daun hijau) pohon pisang, mulai mekar dan jangkerik piaraaan bagong mulai mengerik. kerjapan mata bagong dimulai, degupan lemah jantungnya kembali terdengar, dan gerakan2 kecil dari tubuhnya mulai kelihatan. pak mantri datang terlambat.

mak ijah yg telah menyelesaikan sholat sunnah nya memohon kesembuhan bagong pun berlari menghampiri, saat semua orang berteriak “bagong urip, bagong sik urip” panjatan syukur tak pernah berhenti dari bibirnya, terima kasih tuhan. terima kasih.

—————–
teruntuk mak ijah, inang pengasuh anak bandel ini, moga2 beliau diterima amal ibadahnya disurga. maafkan bagongmu yg bandel ini mak, ga sempet ngasih apa2 sama emak. sembah sujudku mak. anakmu pengen pulang mak, inget kayu bakar sama ikan wader. terima kasih telah memberikah hidup lebih kepadaku. maafkan aku mak telat mendengar kabar darimu, masih inget waktu pertama kali mak memegang henpon dengan aneh, “iki opo to le, tepak kok iso muni barang, (ini apa sih le, kotak pensil kok bisa bunyi ). mak hanya doa yang mampu aku berikan, hanya doa yang bisa aku panjatkan. maaf mak ga bisa nganteri ke peristirahatan mak. cuman bisa nangis mak.

ash to ash, dust to dust.
death is the only inescapable, unavoidable, sure thing. we are sentenced to die the day we’re born

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply